Akhir-akhir ini banyak beredar proposal maupun website yang menawarkan SIMRS dengan mengutip dan mengambil contoh screenshot / tampilan dari produk yang ada di web ini tanpa seijin dari kami.
Tindakan meniru seperti ini jelas menyesatkan masyarakat dan tidak layak dijadikan contoh dalam membangun kemandirian bangsa di era globalisasi sekarang ini. Akan lebih terhormat apabila kita mulai menghargai karya kita sendiri daripada membohongi publik dengan cara-cara menjiplak.
Mari kita bangun Indonesia yang lebih baik ... Indonesia Sehat yang mandiri dan berkepribadian terpuji.
“Dalam Rangka Meningkatkan Pelayanan dan Kinerja Rumah Sakit”
A.Latar Belakang
Dalam era globalisasi sekarang ini, rumah sakit dituntut untuk meningkatkan kinerja dan daya saing sebagai badan usaha dengan tidak mengurangi misi sosial yang dibawanya.Rumah sakit harus merumuskan kebijakan-kebijakan strategis antara lain efisiensi dari dalam (organisasi, manajemen, serta SDM) serta harus mampu secara cepat dan tepat mengambil keputusan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat agar dapat menjadi organisasi yang responsif, inovatif, efektif, efisien dan menguntungkan.
Sistim Informasi Manajemen Rumah Sakitadalah sistem komputerisasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses bisnis layanan kesehatan dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh informasi secara cepat, tepat dan akurat
Sistim Informasi Manajemen (SIM) berbasis komputer merupakan sarana pendukung yang sangat penting – bahkan bisa dikatakan mutlak – untuk operasional rumah sakit
Berbagai pengalaman rumah sakit yang menggunakan sistim administrasi konvensional menunjukan banyaknya kehilangan kesempatan memperoleh laba akibat dari lemahnya koordinasi antar departemen maupun kurangnya dukungan informasi yang cepat, tepat, akurat, dan terintegrasi.
B.Beberapa Kasus
Pada sistim administrasi konvensional, pencatatan pendapatan perawatan dibuat pada saat pasien akan membayar tagihannya atau pada saat pasien akan keluar dari rumah sakit, bukan pada saat tindakan perawatan dilakukan.Pencatatan tersebut dilakukan oleh masing-masing bangsal/ruangan yang memungkinkan adanya unsur subyektifitas dimana seorang kepala ruangan berwenang untuk mengestimasi sendiri tingkat kemampuan pasien dan berapa tindakan perawatan ataupun obat-obatan yang tidak ditagihkan ke pasien.Kondisi pemberian potongan di masing-masing ruangan ini jelas akan menimbulkan akibat yang kurang baik, dimana pendapatan rumah sakit menjadi berkurang dan insentif untuk jasa medis dipotong secara sepihak yang pada akhirnya akan menimbulkan standar ganda perawatan.
C.Solusi
Dalam sistim informasi manajemen rumah sakit ini, fungsi dari bagian perawatan lebih dikonsentrasikan pada pelayanan perawatan/jasa medis secara profesional, fungsi penagihan dilakukan oleh bagian keuangan sedangkan pemberian potongan menjadi wewenang direksi.
Para tenaga medis tidak perlu memikirkan kemampuan finansial pasien dan tidak membeda-bedakan pelayanan kepada pasien karena tenaga medis akan diberi insentif yang sama untuk tindakan yang sama, tidak tergantung kepada siapa pelayanan medis tersebut diberikan.Pola tersebut terbukti mempengaruhi secara positif kinerja para tenaga medis yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit secara keseluruhan.
Tindakan perawatan langsung dicatat pada komputer yang terintegrasi dengan bagian keuangan sehingga menutup kemungkinan terjadinya manipulasi data disaat pasien akan membayar biaya perawatan. Tanpa mengurangi misi sosial, pemberian diskon maupun subsidi perawatan pada dasarnya adalah pengurangan keuntungan rumah sakit dan hal ini adalah wewenang direksi yang melalui sistim informasi ini dapat secara cepat mengetahui posisi keuangan rumah sakit.
Contoh diatas merupakan sebagian dari kemampuan sistim informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) yang terintegrasi, disamping keuntungan lain seperti pencatatan medical record yang terintegrasi, kecepatan pelayanan administratif, sistim inventory control yang baik, fungsi financial yang tepat, serta pembuatan laporan-laporan baik keuangan, perawatan, dll secara cepat dan akurat.
Meningkatkan profesionalisme dan kinerja manajemen rumah sakit
Mendukung koordinasi antar bagian dalam rumah sakit
Meningkatkan akses dan pelayanan rumah sakit terhadap berbagai sumber daya, antara lain mitra usaha potensial seperi Pedagang Besar Farmasi, JAMSOSTEK, Instansi/Perusahaanpemberi jaminan karyawannya, ASKES, dll
Meningkatkan profesionalisme manajemen rumah sakit:
1.Setiap unit akan bekerja sesuai fungsi, tanggung jawab dan wewenangnya;
a.Fungsi Pelayanan dan Informasi
b.Fungsi Perawatan (medical care)
c.Fungsi Penunjang/Supporting
d.Fungsi Administrasi dan Keuangan
e.Fungsi Pengawasan, dll
2.Mendukung kerja sama, keterkaitan dan koordinasi antar bagian / unit dalam rumah sakit.
Contoh:
Unit Registrasi dengan Unit RM dalam hal Petugas RM dapat mengetahui secara real time pasien yang mendaftar di bag Registrasi.
Unit Registrasi dengan Unit Rawat Jalan.
Koordinasi antara Unit Rawat Jalan / Rawat Inap dengan Unit Apotik/Farmasi dalam hal Resep Online dan informasi lainnya.
Koordinasi antara Unit Rawat Jalan / Rawat Inap dengan Unit Laboratorium, Radiologi, IBS, Gizi, Farmasi, dan Keuangan dan sebaliknya
Meningkatkan pendapatan rumah sakit.
b.Manfaat Operasional
Kecepatan
Manfaat yang paling terasa ketika SIMRS tersebut selesai diimplementasikan adalah kecepatan penyelesaian pekerjaan-pekerjaan administrasi. Ketika dengan sistem manual pengerjaaan tagihan kepada mitra/pihak ke-3, misalnya, memakan waktu sampai 1 bulan sejak pasien selesai dilayani, dengan SIMRS hanya memakan waktu 1-2 hari saja.Kecepatan ini tentu saja membuat efektifitas kerja meningkat.Pada awal pemasangan SIM, ketika aliran kerja belum lancar, peningkatan kecepatan belum terlalu terasa.Namun ketika komitmen seluruh unit untuk tepat waktu memasukkan data dengan akurasi entri data yang tinggi dipenuhi, maka akan terasa sekali dampak dari SIMRS terhadap kecepatan kerja.
Akurasi
Hal lain yang juga terasa berubah adalah akurasi data, apabila dulu dengan sistem manual orang harus mencek satu demi satu transaksi, namun sekarang dengan SIMRS hal tersebut cukup dilakukan dengan membandingkan laporan antar unit yang dihasilkan oleh SIM.SIMRS juga dapat mencegah terjadinya duplikasi data untuk transaksi-transaksi tertentu. Misalnya, pasien yang sama diregistrasi 2 kali pada hari yang sama, maka SIMRS akan menolaknya, SIMRS juga akan memberikan peringatan jika tindakan yang sama untuk pasien yang sama dicatat 2 kali, hal ini menjaga agar user lebih teliti.
Integrasi
Hal lain yang juga terasa berpengaruh terhadap budaya kerja adalah integrasi data di setiap unit. Bila dengan sistem manual, data pasien harus dimasukkan di setiap unit, maka dengan SIMRS data tersebut cukup sekali dimasukkan di pendaftaran saja. Hal ini jelas mengurangi beban kerja adminstrasi dan menjamin konsistensi data.Ilustrasi pada awal makalah ini merupakan gambaran proses integrasi pada beberapa unit layanan di rumah sakit.
Peningkatan pelayanan
Pengaruh SIMRS yang dirasakan oleh pasien adalah semakin cepat dan akuratnya pelayanan. Sekarang pasien tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan administrasinya, baik rawat inap ataupun rawat jalan. Hal yang sama juga dirasakan perusahaan pelanggan, dimana tagihan yang dikirim cukup akurat dan detil sehingga memudahkan analisa mereka.
Peningkatan Efisiensi
Bila sebelumnya, beban pekerjaan lebih ke arah klerikal, sekarang beban pekerjaan lebih ke arah analisa. Sebagai contoh, jika dahulu konsentrasi bagian penagihan adalah membuat tagihan, sekarang konsentrasinya lebih kepada umur tagihan itu sendiri.Selain itu, karena kecepatan dan akurasi data meningkat, maka waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan administrasi berkurang jauh, sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan utamanya.
Tanpa SIM, perawat harus memasukan data standar asuhan keperawatan secara berulang-ulang dan sangat memakan waktu, tetapi dengan SIM, perawat hanya tinggal memasukan data diagnosa penyakit pasien, dan komputer yang akan mencetak laporan SAK untuk ditanda-tangani perawat.
Kemudahan pelaporan
Pekerjaan pelaporan adalah pekerjaan yang menyita waktu namun sangat penting. Dengan adanya SIM, proses pelaporan hanya memakan waktu dalam hitungan menit sehingga kita dapat lebih konsentrasi untuk menganalisa laporan tersebut.
c.Manfaat Manajerial
Kecepatan mengambil keputusan
Dengan sistem manual, manajer seringkali mengambil keputusan berdasarkan informasi yang mungkin sudah tidak relevan lagi. Belum lagi jika yang dibutuhkan adalah trend berdasarkan selang waktu tertentu (harian/mingguan/dsb), ini mengakibatkan keputusan yang diambil belum tentu sesuai dengan kondisi nyata.Namun dengan SIM, informasi yang disajikan bersifat real time, bahkan kita dapat membuat tabulasi dari informasi tersebut sehingga informasi yang kita dapat sudah sangat spesifik sesuai dengan kebutuhan kita.
Hal ini tentu saja meningkatkan kualitas keputusan kita, di samping tentu saja berkurangnya waktu untuk mengambil keputusan.
Akurasi dan kecepatan Identifikasi masalah
Karena laporan-laporan yang dihasilkan SIMRS memberi gambaran dari hari ke hari mengenai kinerja rumah sakit, maka jika ada hal-hal yang tidak normal dapat segera kita ketahui. Hal ini membuat identifikasi potensi masalah dapat dilakukan lebih dini, sehingga tindakan pencegahan atau penanggulangannya dapat segera disusun.
Kemudahan penyusunan strategi
Sejalan dengan identifikasi masalah di atas, kita pun dapat menyusun strategi ke depan berdasarkan data populasi, bukan lagi statistik, karena SIMRS mampu memberikan data populasi dengan selang waktu tertentu, bahkan menyajikan kecenderungan datanya kepada kita. Ini tentu saja semakin menajamkan strategi yang kita susun.
d.Manfaat Organisasi
Budaya Kerja
Karena SIMRS ini mensyaratkan kedisiplinan dalam pemasukan data, baik ketepatan waktu maupun kebenaran data, maka budaya kerja yang sebelumnya menangguhkan hal-hal seperti itu, menjadi berubah.
Hal ini dapat terjadi karena integrasi SIMRS dengan seluruh unit layanan. Sebagai contoh, jika unit registrasi tidak memasukkan data pasien yang akan berobat, maka unit layanan tidak mungkin dapat memasukkan layanan kepada pasien tersebut, dan kasir pun tidak mungkin menerima pembayaran dari pasien tersebut. Katakanlah semua unit sepakat untuk menangguhkan pemasukan datanya, maka keesokan harinya, manajer akan melihat penurunan trend pasien atau melihat ada pasien-pasien yang menggantung. Ada juga pengalaman menarik yang kami temukan dalam implementasi SIMRS di suatu Rumah Sakit, karena dasar perhitungan imbalan jasa medik untuk dokter dan perawat dihitung berdasarkan data transaksi yang ada di SIM, maka dokter yang berkepentingan dengan data tersebut menjadi supervisor data yang dimasukkan tanpa diminta. Implikasinya adalah, sedikit sekali data yang salah dimasukkan.
Transparansi
SIMRS sebaiknya dirancang menganut kebijakan data terpusat, artinya data-data yang digunakan oleh seluruh rumah sakit berada di bawah satu kendali. Misalnya untuk data tarif tindakan, unit layanan tidak boleh dan tidak bisa memasukkan atau mengubah tarif yang ada, data yang mereka masukkan hanya layanan yang diberikan kepada pasien sehingga manipulasi tarif tidak dimungkinkan.Hal lain lagi, pendapatan setiap unit layanan terlihat dari laporan harian yang selalu dilaporkan kepada direktur. Dengan demikian setiap orang dapat melihat jalannya proses transaksi di rumah sakit dan secara tidak langsung juga turut mengawasi proses tersebut.
Koordinasi antar unit (Team working)
Karena seringkali data yang digunakan oleh unit layanan tertentu adalah milik unit layanan yang lain, misalnya kode perusahaan pelanggan adalah milik keuangan yang digunakan secara intensif oleh medrec, maka ketika terjadi perubahan terhadap data tersebut, unit yang bersangkutan akan mengkoordinasikannya dengan unit yang terpengaruh. Apabila hal ini tidak dilakukan maka dengan sendirinya akan terjadi kekacauan data referensi.
Pemahaman sistem
Apabila dulu dengan sistem manual, sedikit sekali personel yang mengetahui atau perduli dengan proses yang terjadi di unit lain, maka dengan adanya SIMRS hal tersebut terjadi dengan sendirinya. Ini karena seringkali untuk memahami aliran data sampai datang kepada unitnya, melibatkan berbagai unit lain. Ketika terjadi kesalahan setiap user berusaha mencari tempat terjadinya kesalahan tersebut agar bukan unitnya yang disalahkan. Efeknya adalah mereka menjadi paham bagaimana sistem di rumah sakit tersebut bekerja.
Mengurangi biaya administrasi
Seringkali orang menyatakan bahwa dengan adanya komputerisasi biaya administrasi meningkat. Padahal dalam jangka panjang yang terjadi adalah sebaliknya, jika dengan sistem manual kita harus membuat laporan lebih dulu di atas kertas, baru kemudian dianalisa, maka dengan SIMRS analisa cukup dilakukan di layar komputer, dan jika sudah benar baru datanya dicetak. Hal ini menjadi penghematan yang cukup signifikan dalam jangka panjang.
Implementasi SIMRS tentunya tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan semua pihak yang terkait serta political will dari pimpinan rumah sakit maupun pemilik RS / Pemerintah.
Apabila pekerjaan pengembangan SIMRS tersebut akan diserahkan kepada konsultan, maka kewajiban dan tanggung-jawab konsultan sebagai mitra kerja RS adalah harus secara profesional memberikan data dan analisa yang obyektif dan berupaya maksimal untuk keberhasilan implementasi SIMRS.
E.Summary
Sistim Informasi dapat meningkatkan kualitas pelayanan.
Sistim Informasi dapat menjaga standar praktek medis yang baik dan benar.
Sistim Informasi dapat menjadi alat koordinasi yang sangat efektif.
Sistim Informasi dapat menjadi fungsi kontrol yang konsisten.
aryoga sajuda - 09/12/08 @ 10:29PM mas saya minta tolong minta artikel tentang sim rumah sakit yang modren klo da tolong krim ke e mail aku ya mas semoga nantinya sim rumah sakit di indonesia berkembang .makasih sebelumya
madi - 17/11/08 @ 11:37PM wah, bagus lumayan komplet
boleh juga minta contoh modulnya.
Terima kasih
dr.Rina - 24/06/08 @ 11:49PM Salam...
Bagaimana cara mendapatkan modul-modul SIMRS ini?Saya akan mengembangkan sebuah RSIA di Aceh yang diperuntukkan bagi kaum dhuafa dan anak yatim.Bila dapat dikirimkan ke alamat email saya tentu ini sangat berguna bagi perkembangan kesehatan di Aceh pasca Tsunami. Terimakasih.
Sumber berita : http://anisfuad.wordpress.com Desember 24, 2006 — anisfuad
Awalnya saya tidak percaya ketika diberitahu prof Hari bahwa RSUD Banyumas sudah menerapkan sistem informasi keperawatan berbasis komputer menggunakan NANDA, NIC dan NOC. Namun, ketidakpercayaan saya runtuh begitu saja saat menghadiri seminar “NANDA, NIC dan NOC: penerapannya dalam dokumentasi proses keperawatan berbasis komputer” di Hotel Rosenda Baturaden yang dilanjutkan dengan workshop di RSUD Banyumas pada 11-12 Desember 2006. Bagi yang belum familiar, ketiga singkatan tersebut kepanjangannya adalah North American Nursing Diagnosis Association, Nursing Intervention Classification dan Nursing Outcome Classification. Lebih detil mengenai ketiganya silakan berkunjung ke www.nanda.org. Ketiganya merupakan pendekatan sistematik untuk membuat klasifikasi diagnosis, intervensi dan keluaran (dampak) asuhan keperawatan. Jika mahasiswa kedokteran harus mengenal ICD (International Classification of Disease), demikian juga mahasiswa keperawatan pun harus mengenal ketiga istilah tersebut.
Pembakuan klasifikasi dalam asuhan keperawatan merupakan hal yang sangat penting, apalagi jika kita bicara dalam konteks komputerisasi. Menurut prof Hari, kesepakatan istilah dan terminologi akan memperbaiki proses komunikasi, menghilangkan ambiguitas dokumentasi serta memberikan manfaat lebih lanjut terhadap sistem kompensasi, penjadwalan, evaluasi efektivitas intervensi maupun sampai kepada upaya identifikasi error dalam manajemen keperawatan. Hingga saat ini, salah satu tantangan besar dalam informatika kesehatan adalah disepakatinya standar klasifikasi dan terminologi yang mencakup berbagai konsep (kedokteran, keperawatan, laboratorium, obat, patient safety, images, pertukaran data, demografis dll). Dalam kongres APAMI yang lalu di Taiwan pun juga tersirat keingingan kuat untuk memasukkan muatan lokal terhadap berbagai standar internasional yang ada. Pada sesi selanjutnya, DR. Ratna Sitorus, M.App.Sc menguraikan secara rinci perkembangan NANDA, NIC dan NOC serta dampaknya bagi praktek keperawatan di Indonesia. Beliau menyambut baik inovasi RSUD Banyumas yang menjadi pionir penerapan komputerisasi asuhan keperawatan berbasis 3N.
Yang menjadi bintang dalam seminar tersebut tentu saja adalah Jasun, SKep, perawat sekaligus perancang sistem informasi asuhan keperawatan di RSUD Banyumas. Alumnus PSIK FK UGM tersebut, dengan gayanya yang meyakinkan menceritakan tahapan pengembangan sistem asuhan keperawatan hingga seperti saat ini. Perkembangan awal dimulai pada tahun 1998 dengan diterapkannya billing system berbasis DOS. Saya juga masih ingat bahwa saat koas di rumah sakit tersebut pada tahun 1999/2000, belum ada laptop di bangsal. Baru pada tahun 2002 sistem berubah menjadi aplikasi berbasis Windows. Pada tahun 2006 program komputer asuhan keperawatan mulai dibuat dan diterapkan sejak Maret 2006. Saat ini di beberapa bangsal (kalau tidak salah 3), perawat menggunakan laptop dan komputer desktop untuk membuat dokumentasi keperawatan. Bangsal yang menjadi uji coba dilengkapi dengan jaringan wi-fi, laptop dan desktop. Aplikasi komputernya juga terintegrasi dengan modul sistem informasi rumah sakit lain, misalnya billing system.
Hasil print out berkas status keperawatan yang sudah terketik rapi
Melalui sistem asuhan keperawatan berbasis komputer, beberapa informasi yang dihasilkan diantaranya adalah: 1)discharge planning, 2)jadual dinas perawat, 3)penghitungan angka kredit, 4)daftar diagnosis keperawatan terbanyak, 5)daftar NIC terbanyak, 6)laporan implementasi, 7)laporan statsitik, 8)resume keperawatan dan 9)daftar SAK. Evaluasi yang dilakukan oleh Khudazi Aulawi, SKp menunjukkan adanya kelebihan maupun kelemahan sistem tersebut. Dari sisi kelengkapan memang lebih baik, demikian juga dari aspek kemudahan. Saya kira wajar sekali jika masih ditemukan beberapa keterbatasan, termasuk dalam hal validasi data. Saya yakin dengan adanya monitoring dan evaluasi secara berkesinambungan, inovasi informatika keperawatan di RSUD Banyumas akan semakin membaik.
Saya kira akan menarik jika yang inipun dikomputerisasikan
Pada hari kedua saya beserta para peserta seminar berkunjung ke rumah sakit. Kami mendapatkan kesempatan mencoba aplikasi tersebut bersama-sama disamping berkunjung ke bangsal yang telah menerapkannya. Siangnya, dalam sesi diskusi saya (dalam posisi menggantikan prof Hari) mengungkapkan kesan saya yang mendalam tentang pengalaman dan pembelajaran ini dalam satu kata: cemolong.
Acara workshop yang mengesankan, meskipun masih ada kesulitan menggunakan aplikasi.
Perawat di bangsal yang dengan gembira menjelaskan setiap fungsi dalam aplikasi.
Organisasi RS yang tidak sepenuhnya profit oriented memerlukan perlakuan khusus agar organisasi tersebut efisien dan meminimalisasi kehilangan kesempatan memperoleh laba.
Rumah sakit harus mampu meningkatkan kinerja dan daya saing sebagai badan usaha dengan tidak mengurangi misi sosial yang dibawanya, merumuskan kebijakan-kebijakan strategis serta cepat dan tepat mengambil keputusan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat agar dapat menjadi organisasi yang responsif, inovatif, efektif, efisien dan menguntungkan.
Pedoman Akuntansi Rumah Sakit merupakan kebutuhan mutlak bagi rumah sakit untuk melaksanakan dokumentasi yang akuntable, auditable dan transparan.Oleh karena itu dalam web site ini kami memberikan sumbang pemikiran dalam bentuk usulan pelaksanaan pencatatan akuntansi (akunting manual) RS untuk transaksi-transaksi yang berkaitan dengan pelayanan.
JURNAL STANDAR / AKUNTING MANUAL RS UNTUK
TRANSAKSI YANG BERKAITAN DENGAN PELAYANAN
DASAR PEMIKIRAN:
CUPLIKAN BEBERAPA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN, SEBAGAI BERIKUT :
LAMPIRAN I PP 24 TAHUN 2005: PENGANTAR
SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Dengan demikian, SAP merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum dalam upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di Indonesia.
Strategi pengembangan SAP dilakukan melalui proses transisi dari basis kas menuju akrual yang disebut cash towards accrual. Dengan basis ini, pendapatan, belanja, dan pembiayaan dicatat berdasarkan basis kas sedangkan aset, utang, dan ekuitas dana dicatat berdasarkan basis akrual.
Proses transisi standar menuju akrual diharapkan selesai pada tahun 2007
LAMPIRAN II PP 24 TAHUN 2005: KERANGKA KONSEPTUAL
25.Laporan keuangan pokok terdiri dari:
Laporan Realisasi Anggaran;
Neraca;
Laporan Arus Kas;
Catatan atas Laporan Keuangan.
26.Selain laporan keuangan pokok seperti disebut pada paragraf 25, entitas pelaporan diperkenankan menyajikan Laporan Kinerja Keuangan dan Laporan Perubahan Ekuitas.
Basis Akuntansi
39.Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dalam Neraca.
40.Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan dan belanja diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/ Daerah atau entitas pelaporan. Entitas pelaporan tidak menggunakan istilah laba. Penentuan sisa pembiayaan anggaran baik lebih ataupun kurang untuk setiap periode tergantung pada selisih realisasi penerimaan dan pengeluaran. Pendapatan dan belanja bukan tunai seperti bantuan pihak luar asing dalam bentuk barang dan jasa disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran.
41.Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.
42.Entitas pelaporan yang menyajikan Laporan Kinerja Keuangan sebagaimana dimaksud pada paragraf 26 menyelenggarakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan dengan menggunakan sepenuhnya basis akrual, baik dalam pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan, maupun dalam pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Namun demikian, penyajian Laporan Realisasi Anggaran tetap berdasarkan basis kas.
Sehubungan dengan berlakunya PP 24 tahun 2005 tersebut, maka perlu disusun akunting manual / jurnal standar untuk transaksi yang terkait dengan kegiatan operasional pelayanan di Rumah Sakit sbb:
TRANSAKSI REGISTRASI :
AM001
Transaksi Pendaftaran / Registrasi :
Kode Jurnal
:
JV41
Pelaksana
:
Instalasi Pelayanan (RJ/RI)
Periode Posting
:
Rekap Harian
Dr
Piutang Pasien Sementara (re-klas)
XXXXX
Cr
Pendapatan registrasi yg masih akan diterima
XXXXX
TRANSAKSI PEMBERIAN PELAYANAN :
AM002
Jurnal transaksi Pemberian Tindakan kepada Pasien
Kode Jurnal
:
JV42
Pelaksana
:
Instalasi Pelayanan (RJ/RI)
Periode Posting
:
Rekap Harian
Contoh kasus :
Pasien X mendapat tindakan operasi bedah thorak Aortic Replacement kelas III :
Tarif tindakan
:
3.508.000
Komponen tarif :
-
Jasa RS
:
2.030.000
-
Biaya Bahan / alat
:
278.000
-
Jasa Layanan
:
1.200.000
maka jurnal standarnya adalah sebagai berikut:
Dr
Piutang Pasien Sementara (re-klas)
3.508.000
Cr
Pendapatan tindakan medis yg masih akan diterima
3.508.000
Dr
Biaya jasa layanan yang akan diperhitungkan
1.200.000
Dr
Biaya Bahan / Alat yang akan diperhitungkan kemudian
278.000
Cr
Biaya jasa layanan yg masih harus dibayar (Hutang biaya)
1.200.000
Cr
Biaya Bahan / Alat Sementara (re-klas)
278.000
Catatan:
Akun ”Pendapatan yang masih akan diterima” dan ”Biaya yang akan diperhitungkan kemudian” adalah akun internal Rumah Sakit untuk kepentingan penyusunan Laporan Kinerja Keuangan yang sepenuhnya berbasis akrual.
AM003
Jurnal transaksi Penjualan Obat kepada Pasien (direkap harian / per tanggal)
Kode Jurnal
:
JV11
Pelaksana
:
Instalasi Apotik / Farmasi
Periode Posting
:
Rekap Harian
Dr
Piutang Pasien Sementara (re-klas)
XXXXX
Cr
Pendapatan Obat yg masih akan diterima
XXXXX
Dr
HPP Obat yang akan diperhitungkan kemudian
XXXXX
Cr
Persediaan Obat
XXXXX
AM004
Jurnal transaksi Pengambilan Bahan Habis Pakai (direkap harian / per tanggal)
Kode Jurnal
:
JV03
Pelaksana
:
Instalasi Apotik / Farmasi
Periode Posting
:
Tidak ada posting
Pada umumnya, biaya bahan dan alat habis pakai dihitung berdasarkan standar yang dimasukan kedalam tarif layanan sehingga pada saat transaksi pengambilan alat / bahan habis pakai, tidak ada jurnal dalam proses pengambilan barang. Proses tersebut adalah proses pemindahan barang dari Apotik ke Gudang Depo yang merupakan unit penyimpanan di masing-masing ruangan. Pemakaian persediaan di gudang depo baru akan dijurnal berdasarkan hasil stok opnam / cek fisik di masing-masing ruangan untuk menghitung sisa alat / bahan habis pakai sehingga dapat diketahui jumlah pemakaian alat / bahan habis pakai.Stok Opname / Cek Fisik barang dapat dilakukan setiap akhir bulan.
AM005
Jurnal transaksi Biaya Akomodasi (direkap harian / per tanggal)
Kode Jurnal
:
JV29 / Memorial
Pelaksana
:
Bagian Akunting
Periode Posting
:
Rekap Harian
Dr
Piutang Pasien Sementara (re-klas)
XXXXX
Cr
Pendapatan akomodasi yg masih akan diterima
XXXXX
PEMBAYARAN PASIEN ATAU PENGALIHAN HUTANG
Berdasarkan Kebijakan Akuntansi Rumah Sakit, penerimaan pembayaran dari pasien belum diakui sebagai pendapatan selama pasien tersebut belum lunas. Setiap pembayaran akan dimasukan sebagai uang muka pasien.
AM006
Jurnal transaksi pada saat Penerimaan Pembayaran dari Pasien :
Kode Jurnal
:
JV21
Pelaksana
:
Kasir / Keuangan
Periode Posting
:
Per transaksi atau direkap harian
Dr
Kas kecil bendahara penerima
XXXXX
Cr
Uang Muka Pasien (Piutang kredit/minus)
XXXXX
AM007
Pada saat pasien tersebut lunas maka setelah dilakukan verifikasi oleh bagian akunting, uang muka pasien di debet sebesar biaya yang ditanggung oleh pasien
Kode Jurnal
:
JV29 / Memorial
Pelaksana
:
Bagian Akunting
Periode Posting
:
Rekap harian (dihitung untuk pasien yg lunas)
Dr
Uang Muka Pasien (Piutang kredit/minus)
XXXXX
Cr
Piutang Pasien Sementara (re-klas)
XXXXX
Dr
Pendapatan tindakan medis yg masih akan diterima
XXXXX
Dr
Pendapatan akomodasi yg masih akan diterima
XXXXX
Cr
Pendapatan Jasa Layanan RS
XXXXX
AM008
Apabila pasien tersebut merupakan pasien dengan penjamin, maka jurnal transaksi pada saat bagian Pelayanan Piutang (IPP) mengajukan klaim kepada pihak penjamin adalah :
Kode Jurnal
:
JV29 / Memorial
Pelaksana
:
Bagian Pelayanan Piutang
Periode Posting
:
Setiap transaksi klaim
Dr
Piutang JAMKESMAS / ASKES / JAMSOSTEK / dll
XXXXX
Cr
Piutang Pasien Sementara (re-klas)
XXXXX
AM009
Pada saat pihak Penjamin membayar klaim, maka jurnal untuk transaksi pembayaran piutang adalah sebagai berikut :
Kode Jurnal
:
JV21 / JV23
Pelaksana
:
Bagian Keuangan
Periode Posting
:
Setiap transaksi pembayaran
Dr
Kas / Bank Penerima
XXXXX
Cr
Piutang JAMKESMAS / ASKES / JAMSOSTEK / dll
XXXXX
Dr
Pendapatan tindakan medis yg masih akan diterima
XXXXX
Dr
Pendapatan akomodasi yg masih akan diterima
XXXXX
Dr
Pendapatan Obat yg masih akan diterima
XXXXX
Cr
Pendapatan Jasa Layanan RS
XXXXX
AM010
Apabila dari klaim yang diajukan ada sebagian klaim yang ditolak, maka setelah dilakukan verifikasi dan dibuat berita acara, jurnal untuk transaksi pengalihan piutang adalah sebagai berikut :
Kode Jurnal
:
JV29 / Memorial
Pelaksana
:
Bagian Keuangan
Periode Posting
:
Setiap kali terjadi surat pembatalan klaim diterima dari penjamin dan sudah diverifikasi oleh bagian PELAYANAN PIUTANG
mas saya minta tolong minta artikel tentang sim rumah sakit yang modren klo da tolong krim ke e mail aku ya mas semoga nantinya sim rumah sakit di indonesia berkembang .makasih sebelumya
madi - 17/11/08 @ 11:37PM
wah, bagus lumayan komplet
boleh juga minta contoh modulnya.
Terima kasih
dr.Rina - 24/06/08 @ 11:49PM
Salam...
Bagaimana cara mendapatkan modul-modul SIMRS ini?Saya akan mengembangkan sebuah RSIA di Aceh yang diperuntukkan bagi kaum dhuafa dan anak yatim.Bila dapat dikirimkan ke alamat email saya tentu ini sangat berguna bagi perkembangan kesehatan di Aceh pasca Tsunami. Terimakasih.